Kamis, 22 November 2018

Persib, Kalah oleh PSIS atau PSSI?


Pekan lalu, tepatnya pada Minggu, 18 November 2018, adalah hari yang dibilang sangat kelabu. Bukan karena malam minggunya tidak bertemu dengan yang selalu ditunggu, tapi Persib sang Pangeran Biru kembali tertunduk lesu. Alih-alih menang dari tim yang sedang berjuang lolos dari degradasi atau sekedar mencuri satu point, ini malah bermain (lagi) di luar ekspetasi. Menurunkan susunan pemain yang berbeda, bisa disebut sebagian besar pemain muda, Persib dipukul mundur 3 gol tanpa balas oleh PSIS Semarang, yang membuat peluang mengejar juara semakin tipis, karena para pesaing diatasnya justru meraih kemenangan. Bahkan Persib berpeluang Dejavu turun ke peringkat 5 besar seperti 10 tahun yang lalu, jika di tiga laga sisa, meraih hasil yang kurang memuaskan, semoga saja tidak, isin atuh ah.
Hasil kurang memuaskan Persib Bandung tidak terlepas dari kejadian pilu beberapa pekan sebelumnya, dimana salah satu anggota The Jack meninggal oleh beberapa oknum bobotoh, beberapa jam sebelum Kick Off laga Persib vs Persija berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Kota Bandung. Laga yang berakhir dengan kemenangan Maung Bandung itu, justru terasa tidak sempurna, karena beredar kabar adanya anggota The Jack yang meninggal dunia. 
Buntut dari kejadian pilu tersebut, Persib Bandung seolah dihukum dengan tidak "wajar" oleh PSIS, eh PSSI melalui Komisi Disiplinnya. Kenapa saya bilang tidak wajar? Karena TKP kejadian di luar stadion,  para pelaku pun sudah di proses secara hukum yang berlaku, di dalam stadion pertandingan berlangsung kondusif, kalau ada intrik di dalam lapangan, itu bisa dibilang wajar dalam laga bertensi tinggi, toh ada wasit sang pengadil lapangan, yang bisa menghukum lewat kartu yang dibawanya. Ah sudahlah, hukuman sudah berlaku, dan kini Persib hanya bisa berjuang dan berdo'a, semoga keajaiban datang di tiga laga sisa, salah satunya laga malam ini melawan Perseru Serui di Kandang rasa Tandang, Stadion I Wayan Dipta Gianyar, Bali. Dan siapapun yang juara liga 1 tahun ini, kita sama-sama dukung untuk berlaga di Piala AFC atau Liga Champion Asia tahun depan. Karena kita hanya bisa berencana, selebihnya kita berusaha, berdo'a dan Tuhan yang menentukan, bukan PSSI. Semoga!!!

Jadi, Persib itu kalah oleh PSIS atau PSSI? 
Tunggu jawabannya di akhir kompetisi 

Continue reading Persib, Kalah oleh PSIS atau PSSI?

Sabtu, 13 Agustus 2016

Selamat Pagi 14 Agustus 2016 !


Hari ini, Minggu, 14 Agustus 2016, hujan masih mengguyur kota Intan, bahkan bisa dibilang ini hari kedua, Kota Garut diselimuti dinginnya air hujan. Mudah-mudahan hujan yang turun menjadi berkah bagi kita semua, Amin.

Tidak seperti biasanya, pagi 14 Agustus tahun ini tidak tampak iring-iringan angkutan umum yang membawa anggota Pramuka ke Lapang Otista. Tidak terlihat pula para petugas yang sedang bersiap mengibarkan bendera bergegas dari asrama menuju lapangan di pusat kota. Tidak terlihat juga keramaian di Sekretariat Pramuka, Jalan Kiansantang No. 10 Garut Kota. Kok bisa yah, di hari yang spesial ini tidak terjadi apa-apa di pusat kota. Oh iya lupa, mungkin saat ini semua pandangan mata, pikiran dan tenaga kita tertuju ke Buperta, Cibubur ke perhelatan akbar 5 tahunan Pramuka Penggalang yang lebih dikenal dengan sebutan Jambore, ya Jambore Nasional X Tahun 2016.

Walau di pusat kota sepi seperti tak berpenghuni, ditemani hujan yang seperti mengamini situasi, tapi di sudut-sudut lain kota ini, dari wilayah utara sampai selatan Kabupaten Garut, peringatan Hari Pramuka tetap semarak. Ada yang melaksanakan Gerak Jalan, Perkemahan, dan lain sebagainya. Hujan memang seakan menemani kegiatan Pramuka di tahun ini, tapi semangat adik-adik Penggalang, kakak-kakak Penegak, Pandega dan Pembina tetap menggebu.

Semoga hujan di pagi 14 Agustus 2016 tidak melunturkan semangat untuk tetap memandu, karena Pramuka itu Keren, Gembira, Asik yang Katara, Karasa, dan Karampa ku Masyarakat.


14 Agustus 2016








Continue reading Selamat Pagi 14 Agustus 2016 !

Rabu, 24 Juni 2015

Asa Kangen, #dosanya



Kangen atau rindu, memang sesuatu yang akan selalu ada dalam setiap diri dan hati manusia. Memang kangen atau rindu tidak terlihat seperti halnya kita mendapatkan kartu kuning dalam suatu pertandingan -- teu nyambungnya? ah sambungkeun we --, karena kangen atau rindu tersimpan rapat dalam setiap hati manusia. Tapi, kita bisa melihat seseorang yang sedang merindukan sesuatu dengan cara memperhatikan setiap gerak langkahnya. Kadang melamun lalu tersenyum sendiri, atau sering melihat benda-benda yang spesial, kemudian tersenyum lagi, seperti orang gila memang, tapi itulah ungkapan kerinduan yang belum tersampaikan, rindu dalam diam, rindu yang tak pernah padam, walau disiram air es pertemuan -- haha rada puitis saeutik --.
 
Ya itulah rindu atau kangen, kadang bisa membuat seseorang lupa diri. Tapi, apakah rindu atau kangen bisa membuat kita berdosa? Jawabannya bisa Ya, bisa juga Tidak, tergantung dari sudut pandang mana kita melihat dan menilainya. Mari kita bahas satu persatu dari cara pandang penulis.

Kangen, Berdosa? Ya bisa berdosa, bila yang kita rindukan bukan milik kita, tapi apakah memang seperti itu? Toh, kita berharap dan memiliki cita-cita saja tidak berdosa, apakah hanya merindukan bukan yang kita miliki juga berdosa? Bingung memang, bila ada yang merindukan seseorang justru malah berdosa, tapi itulah kenyataannya, rindu atau kangen yang justru berdosa bila kita melakukannya, bahkan hanya sekedar terbersit kangen pun, tetap berdosa, karena ya itu tadi, orang yang kita rindukan bukan milik kita. Ah sudahlah, tetaplah merindu, sebelum rindu jadi beku -- siga PSSI ku Menpora, haha --.

Satu lagi, rindu atau kangen itu tidak berdosa. Ya memang tidak berdosa, dosa naona coba? Hanya merindukan kok, apa salahnya? Kangen atau rindu hak setiap manusia untuk melakukannya, tidak ada yang melarang, selagi kerinduan itu tidak menimbulkan masalah. Contohnya, bilang rindu kepada si A dihadapan pacar kita, ya kalau pacar kitanya mengerti, kalau tidak malah jadi masalah kan? Tapi, tetaplah merindu, sebelum rindu jadi beku -- siga PSSI ku Menpora, haha --.


Itulah sekilas pandangan penulis tentang rindu atau kangen yang berdosa dan tidak. Tepat atau tidak bahasannya tidak jadi masalah, yang penting tulisan ini menggambarkan kerinduan penulis tentang sepak bola Indonesia. Ya sepak bola Indonesia, yang dihukum alias dibanned oleh FIFA gara-gara Menpora melakukan intervensi terhadap Federasi Sepak Bola Indonesia atau PSSI, yang berujung pembekuan sehari setelah Kongres PSSI usai, aneh kan? Ya aneh lah, masa SK Pembekuan seolah menunggu hasil kongres dulu. Seperti sudah disetting, bila yang terpilih si A, ya gak bakalan dibekukan, tapi bila yang terpilih si B, ya pasti dibekukan, Itulah Indonesia, Aneh tapi Nyata.

Kita, sebagai rakyat biasa, hanya bisa berdoa, bertindak dalam diam. Hanya bisa mengungkapkan perasaan kerinduan lewat kata-kata, walau entah siapa yang akan membacanya, yang penting unek-unek kita tersampaikan -- dipendam mah ke jadi jerawat gera,haha --. 

Ingin rasanya kembali merasakan atmosfer dukungan yang luar biasa, walau belum pernah menonton langsung di stadion, tapi keriuhan suporter saat mendukung timnya, tetap terasa walau dibalik layar kaca. 


 

 
Ingin rasanya kembali melihat perjuangan spartan dan tak kenal menyerah, gelandang the number six Mas Hariono (24). 



Ingin pula melihat kembali perjuangan heroik I Made Wirawan saat jatuh bangun menjaga gawangnya agar tetap perawan. 
 
Ingin pula kembali melihat ungkapan syukur melalui sujud syukur yang sering diperagakan Bang Haji Ridwan, Bang Haji Pardi dan tentunya gelandang serang asal Mali Konate Makan, sesaat setelah mencetak gol kemenangan. 


Dan ingin pula kembali melihat teriakan penuh semangat ala tembok penghancur dari Balkan, Vladimir Vujovic, yang walau sering temperamental, tapi semangatnya selalu menggebu-gebu. Kita semua pasti masih ingat, pertandingan semi final melawan Arema Cronous, ketika sepakan Vujovic menjelang akhir pertandingan, mampu meruntuhkan mental para pemain Arema dan di babak perpanjangan waktu akhirnya Singo Edan harus takluk dari Maung Bandung dengan skor akhir 3-1 lewat tambahan gol sang Kapten Lord Atep, dan Gelandang Hitam namun Elegan Konate Makan.


Itulah sebagian ungkapan kerinduan akan sepak bola Indonesia, yang sering disebut negeri yang kering prestasi di level tim senior. Mengapa tim senior? Ya karena di tim yunior, kita patut berbangga hati, karena di tahun 2013 yang lalu, timnas U-19 hasil blusukan Indra Sjafrie meraih juara di ajang AFF Cup U-19. 




Di level klub pun, tahun 2014 kemarin, Persipura mampu menembus babak semi final  Piala AFC, kasta kedua setelah Liga Champion Asia. Tapi, di tahun ini, klub asal Indonesia Timur ini, malah kalah oleh kawan sendiri, bukan oleh lawannya. Ya,Persipura gagal mentas di babak 16 Besar AFC Cup, gara-gara 3 pemain asing asal klub negeri jiran, tidak bisa masuk ke indonesia karena urusan imigrasi, akhirnya mereka pun kembali ke tanah air asal klubnya, dan gagal tarung di Mandala Jayapura, yang artinya kesempatan untuk mengulang sejarah pupus hanya karena masalah imigrasi, miris memang, tapi itulah kenyataannya. 



Beruntung tim juara asal Bandung, Persib, tidak mengalami masalah yang sama, karena tim tamu asal Hongkong, melenggang mulus masuk ke Indonesia. Dan entah karena bayang-bayang sanksi FIFA -- sebelum laga 16 besar AFC Cup, PSSI belum dihukum --, tim Persib malah harus bertekuk lulut atas tamunya tersebut dengan 2 gol tanpa balas, yang artinya tiket 8 besar harus rela melayang ke tangan tim tamu, sedih, pasti, tapi itulah kenyataannya.
 
Setelah laga 16 besar AFC Cup usai, dan tanpa satupun wakil Indonesia yang lolos melaju ke babak 8 besar, kerinduan akan sepak bola Indonesia terus naik menuju puncak Jayawijaya, beruntung walau akhirnya PSSI/Indonesia dihukum FIFA, ada secercah harapan ketika Timnas U-23 yang akan mentas di SEA Games 2015 Singapura, masih diijinkan bertarung membawa Panji Garuda di Dada, yang membuat kerinduanpun turun ke puncak gunung Guntur di Garut, Jawa Barat.

Tapi, entah karena lelah kurang minum Aqua, atau sakit setelah sepak bola Indonesia di hukum FIFA yang berbuntut ladang pekerjaan mereka tidak ada, Garuda Muda harus takluk dari Myanmar 4-2 di laga perdana. 


Namun entah ada angin apa yang merasuki mereka, di laga kedua mereka bungkam Kamboja, di laga ketiga kalahkan Filipina, dan di laga terakhir penyisihan grup, garuda muda hentikan langkah tuan rumah Singapura yang berhasrat melaju ke semi final, luar biasa.

 









Menatap laga semi final, kepakan sayap garuda muda tidak bisa maksimal, karena terhenti dengan tragis oleh injakan kaki sang Gajah Putih Thailand. Garuda Muda terbang menukik tajam, tapi masih ada harapan untuk mengobati rindu dengan perunggu. 


Tapi, perunggu hanyalah tinggal kenangan, di pertandingan perebutan perunggu, garuda muda kembali terhujam oleh Vietnam, yang artinya Garuda Muda pulang ke tanah air, tanpa medali satu pun, sedih, pasti, tapi itulah takdir yang harus kita terima.


Meratapi nasib sepak bola Indonesia yang dihukum FIFA dan “katanya” kering prestasi, sama halnya memendam kerinduan kepada orang yang bukan milik kita, dosa, walau hanya sekedar rindu. Maka dari itu, mari bersama-sama kita perbaiki sepak bola Indonesia dengan cara masing-masing, semampunya masing-masing, dan perbaikilah diri kita agar pantas dirindukan oleh orang-orang yang benar-benar tulus merindukan kita, bukan hanya sekedar sandiwara. Serta marilah kita berdoa, semoga sepak bola Indonesia dikelola oleh orang-orang yang mengerti sepak bola, bukan hanya mengejar popularitas semata, Semoga !

delta siera balik



Continue reading Asa Kangen, #dosanya

Rabu, 13 Mei 2015

Mas Har di Derby Jabar



Saat laga derby Jawa Barat (karena tahun ini PBR bermarkas di Bekasi) antara Persib vs PBR, ada hal yang unik terjadi. Yaitu ketika Atep digantikan oleh Taufik di pertengahan babak kedua (dan merupakan pergantian terakhir). Apanya yang unik ? 

Atep adalah kapten utama Persib dan bermain dari menit pertama, walau ada Bang Firman Utina yang biasanya menyandang ban kapten sejak musim lalu, tapi musim ini Ban Kapten melekat di lengan kiri Atep. Nah ketika pergantian akhir dilakukan oleh Persib, dengan mengganti Atep oleh Taufik, saya pribadi bertanya siapa yang akan meneruskan memimpin pasukan Persib di sisa laga? Bang Firman sudah ditarik keluar dan digantikan oleh Dedi Kusnandar, Pak Haji M. Ridwan yang biasanya jadi kapten setelah Atep atau Firmanpun sudah digantikan oleh Tantan, Supardi Natsir yang pernah menyandang Ban Kapten musim lalupun tidak ada, karena tidak bermain. Lantas siapa yang akan menyandang Ban Kapten? Perkiraan saya ada pada tiga nama, yang pertama I. Made (faktor senioritas), yang kedua Ahmad Jufriyanto (faktor yang sama dengan I. Made), dan yang ketiga Dedi Kusnandar (walau masih muda, Dedi pernah memimpin Timnas U-23 tahun 2014 kemarin).  Tapi ternyata dugaan saya salah, Ban Kapten justru “diserahkan” oleh Atep kepada gelandang yang terkenal keras dan kompromi, yaitu Mas Hariono. Mas Har pun seolah tidak percaya dia menyandang ban kapten, dan hanya tersenyum seolah bertanya kenapa harus saya, kan masih ada pemain yang lebih pantas, tapi ban kapten sudah “diserahkan” dari sang kapten utama kepada Mas Har, dan setelah ban kapten melekat di lengan kirinya, dia mau tidak mau harus memimpin pasukan Maung Bandung sampai akhir laga.

Tepatkah keputusan Lord Atep dan juga Coach Djanur dengan memilih Mas Har menyandang ban kapten di sisa laga? Bisa ya, bisa tidak, tergantung dari sudut pandang mana menilainya. Tapi terlepas dari itu semua, Mas Har sudah membuktikan bahwa dia bisa memimpin pasukan maung bandung, walau tidak full selama 90 menit. Dia bisa membuktikan kepada khalayak, bahwa dirinya tetap layak menjadi kapten dan memimpin pasukan biru sampai laga berakhir.
 
Terima Kasih Mas Har, rasa-rasanya suatu saat nanti, Mas Har memang layak menjadi kapten utama sebuah tim. Lanjutkan Mas, bermainlah dengan caramu sendiri, karena dengan itu orang akan mengenangmu !
Continue reading Mas Har di Derby Jabar

Ujian, Hadapi jangan Ditakuti





Mulai besok tanggal 9 Maret 2015 sampai nanti tanggal 16 April 2015, akan menjadi  hari-hari yang menegangkan atau hari-hari yang sulit khususnya bagi kelas XII SMK Insan Prima Mandiri. Kenapa disebut hari yang menegangkan atau hari yang sulit? Karena dari mulai tanggal tersebutlah, mereka akan berjuang sekuat tenaga, dengan segala daya dan upaya, untuk melaksanakan yang namanya Ujian Sekolah Praktik, Ujian Kompetensi Kejuruan (sering disebut UJKOM), Ujian Sekolah Tulis Utama dan yang terakhir Ujian Nasional.

Tapi apakah memang sesulit, setegang, dan seseram itukah yang namanya Ujian? Jawabannya bisa Ya, bisa juga Tidak, tergantung dari sudut pandang atau orang yang menjalaninya. Bisa sangat menyulitkan bila kita belum mempersiapkan apa-apa, tapi bisa sangat mudah bila kita sudah siap segalanya. Tapi semua itu, tetap harus dijalani. Jangan sampai karena takut dengan yang namanya US, UKK dan UN, malah menghindar atau tidak sekolah. Malah jarang masuk atau sering kabur dari sekolah. Justru seharusnya tetap dihadapi, karena walau menghindar, Ujian akan tetap datang dan siap menghadang siapapun yang tidak serius dan tidak berusaha untuk menjalaninya.

Tetaplah berusaha dengan sekuat tenaga, jangan hanya diam saja, kalau materi dirasa belum cukup atau kurang mengerti, mintalah kepada guru yang bersangkutan untuk menambah jam pelajaran (pengayaan). Kalau masih belum cukup juga, belajarlah bersama dengan sesama teman, karena bila dilakukan bersama semuanya akan menjadi ringan. Seumpama sapu lidi, kalau hanya sebatang tidak akan cukup atau memakan waktu lama untuk membersihkan satu halaman rumah, tapi kalau bersama alias dalam bentuk sapu lidi yang diikat oleh sebuah tali (persaudaraan), membersihkan satu halaman rumah tidak akan memakan waktu yang cukup lama.

Tetaplah fokus menjalani semua ini, kurangi waktu bermain (tapi bukan tidak boleh bermain, karena refreshing juga perlu untuk menyegarkan pikiran kita). Tapi, aturlah waktu sebaik dan seefektif mungkin, agar waktu belajar cukup, waktu bermainpun (menyegarkan pikiran) juga cukup.
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selagi kita terus berusaha, apapun bisa saja terjadi.
Mereka makan nasi, kitapun sama makan nasi, jadi kenapa harus takut dan menyerah? Buktikan bahwa kalian BISA ! Karena SMK BISA !

Tentang Ujian yang harus dihadapi, bukan malah ditakuti atau ditinggal pergi.
Continue reading Ujian, Hadapi jangan Ditakuti