Hari ini, 18 Februari 2015. Tepat
satu tahun dimana saya mendapatkan kartu merah kedua sep
anjang hidup saya di
dunia sepak bola, lapangan hijau. Ya lapangan hijau sesungguhnya, lapangan
hijau yang lebih luas dari sekedar lapangan hijau sepak bola, yang waktu
bermainnya tidak hanya sekedar 2x45 menit, dengan istirahat 15 menit di jeda
pertandingan dan ditambah beberapa menit tambahan waktu. Lapangan hijau yang
permasalahannya lebih komplek dan rumit daripada sekedar memutuskan apakah gol
Frank Lampard pada Piala Dunia 2010 masuk atau tidak ke gawang Jerman. Lapangan
hijau yang tidak hanya sekedar menghadirkan intrik dan polemik, tapi lebih dari
itu.
Kartu merah ini lahir karena saya
mencoba menghentikan pemain lawan secara paksa agar tidak masuk kotak penalti
tim sendiri, dan saya lupa bahwa sebelumnya saya juga melakukan pelanggaran
yang berbuah kartu kuning. Hasilnya bisa ditebak ketika saya melakukan
pelanggaran kedua kalinya di pertandingan yang sama, maka akan keluar kartu
kuning kedua dan itu artinya akumulasi dua kartu kuning yang menghasilkan kartu
merah. Ya kartu merah yang membuat saya harus keluar dari lapangan pertandingan
dan mandi lebih cepat – begitu kata salah satu komentator di ISL--.
Dengan wajah menyesal dan langkah
gontai --tapi tidak dengan menenteng map karena ini bukan lagu sarjana muda
milik Iwan Fals-- saya pun menuju ruang ganti untuk merenungkan apa yang sudah
terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur --tinggal kita makan saja buburnya,
lumayan buat sarapan-- yang sudah terjadi biarlah terjadi, tinggal kini kita
melangkah ke arah yang lebih baik. Berpijak pada pengalaman, kita bangun
kembali semangat agar hari esok dan seterusnya bisa menjadi yang terbaik.
Kartu merah sebagaimana lazimnya
dalam sebuah pertandingan, hukumannya hanya satu atau dua kali pertandingan
tidak boleh tampil bersama tim dalam pertandingan resmi, itupun tergantung
regulasi federasi masing-masing. Tapi karena ini lapangan hijau yang konteksnya
lebih luas, “hukumannya” lebih lama, yaitu satu tahun semenjak kartu merah
tersebut dikeluarkan. Lama? Pasti. Karena ini bukan aturan federasi sepak bola
suatu negara, ini aturan federasi yang ada tapi tidak terlihat, yang tidak
terasa tapi ada. Federasi seperti apa ini, hanya Tuhan yang Mengetahui dan yang
menulis tulisan ini tentunya.
Tapi jangan bingung dulu, hukuman
satu tahun ini, bukan
nya malah membunuh karakter seorang pemain, tapi justru
membuat pemain tersebut bisa mawas diri, menelaah apa yang salah dan tentunya
agar kesalahan itu tidak terulang kembali. Seperti kasus gigitan Suarez pada
Piala Dunia 2014 saat melawan Italia yang berbuntut hukuman larangan bermain
sepak bola selama kurang lebih 4 bulan. Di satu sisi hukuman ini bisa membunuh
karakter seseorang, tapi di sisi lain bisa membuat orang tersebut menjadi lebih
baik, seperti yang ditunjukan oleh Suarez sekarang saat bermain untuk
Barcelona.
Ya itulah hukuman, bagaikan dua
sisi mata uang, tipis perbedaanya. Tapi itu semua –hukuman yang lama—tidak akan
terasa lama bila kita mengisinya dengan hal-hal baik. Seperti seekor ulat yang
dibenci, dibuang dan kadang dibunuh, tapi ketika menjadi kepompong dan berubah
menjadi kupu-kupu, semua orang menyukainya, tidak terkecuali orang yang pernah
membunuh seekor ulat.
Ketika Ulat menjadi Kepompong dan
akhirnya menjadi Kupu-kupu
18 Februari 2014 – 18 Februari
2015


0 komentar:
Posting Komentar