Rabu, 13 Mei 2015

Ketika Ulat menjadi Kepompong dan akhirnya menjadi Kupu-kupu



Hari ini, 18 Februari 2015. Tepat satu tahun dimana saya mendapatkan kartu merah kedua sep
anjang hidup saya di dunia sepak bola, lapangan hijau. Ya lapangan hijau sesungguhnya, lapangan hijau yang lebih luas dari sekedar lapangan hijau sepak bola, yang waktu bermainnya tidak hanya sekedar 2x45 menit, dengan istirahat 15 menit di jeda pertandingan dan ditambah beberapa menit tambahan waktu. Lapangan hijau yang permasalahannya lebih komplek dan rumit daripada sekedar memutuskan apakah gol Frank Lampard pada Piala Dunia 2010 masuk atau tidak ke gawang Jerman. Lapangan hijau yang tidak hanya sekedar menghadirkan intrik dan polemik, tapi lebih dari itu.

Kartu merah ini lahir karena saya mencoba menghentikan pemain lawan secara paksa agar tidak masuk kotak penalti tim sendiri, dan saya lupa bahwa sebelumnya saya juga melakukan pelanggaran yang berbuah kartu kuning. Hasilnya bisa ditebak ketika saya melakukan pelanggaran kedua kalinya di pertandingan yang sama, maka akan keluar kartu kuning kedua dan itu artinya akumulasi dua kartu kuning yang menghasilkan kartu merah. Ya kartu merah yang membuat saya harus keluar dari lapangan pertandingan dan mandi lebih cepat – begitu kata salah satu komentator di ISL--.

Dengan wajah menyesal dan langkah gontai --tapi tidak dengan menenteng map karena ini bukan lagu sarjana muda milik Iwan Fals-- saya pun menuju ruang ganti untuk merenungkan apa yang sudah terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur --tinggal kita makan saja buburnya, lumayan buat sarapan-- yang sudah terjadi biarlah terjadi, tinggal kini kita melangkah ke arah yang lebih baik. Berpijak pada pengalaman, kita bangun kembali semangat agar hari esok dan seterusnya bisa menjadi yang terbaik.

Kartu merah sebagaimana lazimnya dalam sebuah pertandingan, hukumannya hanya satu atau dua kali pertandingan tidak boleh tampil bersama tim dalam pertandingan resmi, itupun tergantung regulasi federasi masing-masing. Tapi karena ini lapangan hijau yang konteksnya lebih luas, “hukumannya” lebih lama, yaitu satu tahun semenjak kartu merah tersebut dikeluarkan. Lama? Pasti. Karena ini bukan aturan federasi sepak bola suatu negara, ini aturan federasi yang ada tapi tidak terlihat, yang tidak terasa tapi ada. Federasi seperti apa ini, hanya Tuhan yang Mengetahui dan yang menulis tulisan ini tentunya.

Tapi jangan bingung dulu, hukuman satu tahun ini, bukan
nya malah membunuh karakter seorang pemain, tapi justru membuat pemain tersebut bisa mawas diri, menelaah apa yang salah dan tentunya agar kesalahan itu tidak terulang kembali. Seperti kasus gigitan Suarez pada Piala Dunia 2014 saat melawan Italia yang berbuntut hukuman larangan bermain sepak bola selama kurang lebih 4 bulan. Di satu sisi hukuman ini bisa membunuh karakter seseorang, tapi di sisi lain bisa membuat orang tersebut menjadi lebih baik, seperti yang ditunjukan oleh Suarez sekarang saat bermain untuk Barcelona.

Ya itulah hukuman, bagaikan dua sisi mata uang, tipis perbedaanya. Tapi itu semua –hukuman yang lama—tidak akan terasa lama bila kita mengisinya dengan hal-hal baik. Seperti seekor ulat yang dibenci, dibuang dan kadang dibunuh, tapi ketika menjadi kepompong dan berubah menjadi kupu-kupu, semua orang menyukainya, tidak terkecuali orang yang pernah membunuh seekor ulat.

Ketika Ulat menjadi Kepompong dan akhirnya menjadi Kupu-kupu
18 Februari 2014 – 18 Februari 2015

0 komentar:

Posting Komentar