Kangen atau rindu,
memang sesuatu yang akan selalu ada dalam setiap diri dan hati manusia. Memang
kangen atau rindu tidak terlihat seperti halnya kita mendapatkan kartu kuning
dalam suatu pertandingan -- teu nyambungnya? ah sambungkeun we --, karena kangen
atau rindu tersimpan rapat dalam setiap hati manusia. Tapi, kita bisa melihat
seseorang yang sedang merindukan sesuatu dengan cara memperhatikan setiap gerak
langkahnya. Kadang melamun lalu tersenyum sendiri, atau sering melihat
benda-benda yang spesial, kemudian tersenyum lagi, seperti orang gila memang,
tapi itulah ungkapan kerinduan yang belum tersampaikan, rindu dalam diam, rindu
yang tak pernah padam, walau disiram air es pertemuan -- haha rada puitis
saeutik --.
Ya itulah rindu atau
kangen, kadang bisa membuat seseorang lupa diri. Tapi, apakah rindu atau kangen
bisa membuat kita berdosa? Jawabannya bisa Ya, bisa juga Tidak, tergantung dari
sudut pandang mana kita melihat dan menilainya. Mari kita bahas satu persatu
dari cara pandang penulis.
Kangen, Berdosa? Ya bisa
berdosa, bila yang kita rindukan bukan milik kita, tapi apakah memang seperti
itu? Toh, kita berharap dan memiliki cita-cita saja tidak berdosa, apakah hanya
merindukan bukan yang kita miliki juga berdosa? Bingung memang, bila ada yang
merindukan seseorang justru malah berdosa, tapi itulah kenyataannya, rindu atau
kangen yang justru berdosa bila kita melakukannya, bahkan hanya sekedar
terbersit kangen pun, tetap berdosa, karena ya itu tadi, orang yang kita
rindukan bukan milik kita. Ah sudahlah, tetaplah merindu, sebelum rindu jadi
beku -- siga PSSI ku Menpora, haha --.
Satu lagi, rindu atau
kangen itu tidak berdosa. Ya memang tidak berdosa, dosa naona coba? Hanya
merindukan kok, apa salahnya? Kangen atau rindu hak setiap manusia untuk
melakukannya, tidak ada yang melarang, selagi kerinduan itu tidak menimbulkan
masalah. Contohnya, bilang rindu kepada si A dihadapan pacar kita, ya kalau
pacar kitanya mengerti, kalau tidak malah jadi masalah kan? Tapi, tetaplah
merindu, sebelum rindu jadi beku -- siga PSSI ku Menpora, haha --.
Itulah sekilas pandangan
penulis tentang rindu atau kangen yang berdosa dan tidak. Tepat atau tidak
bahasannya tidak jadi masalah, yang penting tulisan ini menggambarkan kerinduan
penulis tentang sepak bola Indonesia. Ya sepak bola Indonesia, yang dihukum
alias dibanned oleh FIFA gara-gara Menpora melakukan intervensi terhadap
Federasi Sepak Bola Indonesia atau PSSI, yang berujung pembekuan sehari setelah
Kongres PSSI usai, aneh kan? Ya aneh lah, masa SK Pembekuan seolah menunggu
hasil kongres dulu. Seperti sudah disetting, bila yang terpilih si A, ya gak
bakalan dibekukan, tapi bila yang terpilih si B, ya pasti dibekukan, Itulah
Indonesia, Aneh tapi Nyata.
Kita, sebagai rakyat
biasa, hanya bisa berdoa, bertindak dalam diam. Hanya bisa mengungkapkan
perasaan kerinduan lewat kata-kata, walau entah siapa yang akan membacanya,
yang penting unek-unek kita tersampaikan -- dipendam mah ke jadi jerawat
gera,haha --.
Ingin rasanya kembali merasakan atmosfer dukungan yang luar
biasa, walau belum pernah menonton langsung di stadion, tapi keriuhan suporter
saat mendukung timnya, tetap terasa walau dibalik layar kaca.
Ingin rasanya
kembali melihat perjuangan spartan dan tak kenal menyerah, gelandang the number
six Mas Hariono (24).
Ingin pula melihat kembali perjuangan heroik I Made
Wirawan saat jatuh bangun menjaga gawangnya agar tetap perawan.
Ingin pula
kembali melihat ungkapan syukur melalui sujud syukur yang sering diperagakan
Bang Haji Ridwan, Bang Haji Pardi dan tentunya gelandang serang asal Mali
Konate Makan, sesaat setelah mencetak gol kemenangan.
Dan ingin pula kembali
melihat teriakan penuh semangat ala tembok penghancur dari Balkan, Vladimir
Vujovic, yang walau sering temperamental, tapi semangatnya selalu menggebu-gebu.
Kita semua pasti masih ingat, pertandingan semi final melawan Arema Cronous,
ketika sepakan Vujovic menjelang akhir pertandingan, mampu meruntuhkan mental
para pemain Arema dan di babak perpanjangan waktu akhirnya Singo Edan harus
takluk dari Maung Bandung dengan skor akhir 3-1 lewat tambahan gol sang Kapten
Lord Atep, dan Gelandang Hitam namun Elegan Konate Makan.
Itulah sebagian ungkapan
kerinduan akan sepak bola Indonesia, yang sering disebut negeri yang kering
prestasi di level tim senior. Mengapa tim senior? Ya karena di tim yunior, kita
patut berbangga hati, karena di tahun 2013 yang lalu, timnas U-19 hasil
blusukan Indra Sjafrie meraih juara di ajang AFF Cup U-19.
Di level klub pun,
tahun 2014 kemarin, Persipura mampu menembus babak semi final Piala AFC, kasta kedua setelah Liga Champion
Asia. Tapi, di tahun ini, klub asal Indonesia Timur ini, malah kalah oleh kawan
sendiri, bukan oleh lawannya. Ya,Persipura gagal mentas di babak 16 Besar AFC
Cup, gara-gara 3 pemain asing asal klub negeri jiran, tidak bisa masuk ke
indonesia karena urusan imigrasi, akhirnya mereka pun kembali ke tanah air asal
klubnya, dan gagal tarung di Mandala Jayapura, yang artinya kesempatan untuk
mengulang sejarah pupus hanya karena masalah imigrasi, miris memang, tapi itulah
kenyataannya.
Beruntung tim juara asal Bandung, Persib, tidak mengalami masalah
yang sama, karena tim tamu asal Hongkong, melenggang mulus masuk ke Indonesia.
Dan entah karena bayang-bayang sanksi FIFA -- sebelum laga 16 besar AFC Cup,
PSSI belum dihukum --, tim Persib malah harus bertekuk lulut atas tamunya
tersebut dengan 2 gol tanpa balas, yang artinya tiket 8 besar harus rela
melayang ke tangan tim tamu, sedih, pasti, tapi itulah kenyataannya.
Setelah laga 16 besar
AFC Cup usai, dan tanpa satupun wakil Indonesia yang lolos melaju ke babak 8
besar, kerinduan akan sepak bola Indonesia terus naik menuju puncak Jayawijaya,
beruntung walau akhirnya PSSI/Indonesia dihukum FIFA, ada secercah harapan
ketika Timnas U-23 yang akan mentas di SEA Games 2015 Singapura, masih
diijinkan bertarung membawa Panji Garuda di Dada, yang membuat kerinduanpun
turun ke puncak gunung Guntur di Garut, Jawa Barat.
Tapi, entah karena lelah
kurang minum Aqua, atau sakit setelah sepak bola Indonesia di hukum FIFA yang
berbuntut ladang pekerjaan mereka tidak ada, Garuda Muda harus takluk dari
Myanmar 4-2 di laga perdana.
Namun entah ada angin apa yang merasuki mereka, di
laga kedua mereka bungkam Kamboja, di laga ketiga kalahkan Filipina, dan di
laga terakhir penyisihan grup, garuda muda hentikan langkah tuan rumah
Singapura yang berhasrat melaju ke semi final, luar biasa.
Menatap laga semi final,
kepakan sayap garuda muda tidak bisa maksimal, karena terhenti dengan tragis
oleh injakan kaki sang Gajah Putih Thailand. Garuda Muda terbang menukik tajam,
tapi masih ada harapan untuk mengobati rindu dengan perunggu.
Tapi, perunggu
hanyalah tinggal kenangan, di pertandingan perebutan perunggu, garuda muda
kembali terhujam oleh Vietnam, yang artinya Garuda Muda pulang ke tanah air,
tanpa medali satu pun, sedih, pasti, tapi itulah takdir yang harus kita terima.
Meratapi nasib sepak
bola Indonesia yang dihukum FIFA dan “katanya” kering prestasi, sama halnya
memendam kerinduan kepada orang yang bukan milik kita, dosa, walau hanya
sekedar rindu. Maka dari itu, mari bersama-sama kita perbaiki sepak bola
Indonesia dengan cara masing-masing, semampunya masing-masing, dan perbaikilah
diri kita agar pantas dirindukan oleh orang-orang yang benar-benar tulus
merindukan kita, bukan hanya sekedar sandiwara. Serta marilah kita berdoa,
semoga sepak bola Indonesia dikelola oleh orang-orang yang mengerti sepak bola,
bukan hanya mengejar popularitas semata, Semoga !
delta siera balik



















Diambil dari arsip pesan tertanggal 24-03-2015 20:57
BalasHapus